Persahabatan Dua Ulama: TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan TGH. Abdul Hafidz Sulaiman
2026-09-26 03:01:00
TGH. Abdul Hafidz Sulaiman merupakan salah satu tokoh ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Kediri, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Nama beliau tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Pondok Pesantren Selaparang, lembaga pendidikan Islam yang hingga kini terus menjadi tempat menimba ilmu, membentuk akhlak, dan mendidik generasi umat.
Berbagai sumber mengenai sejarah Pondok Pesantren Selaparang menyebut TGH. Abdul Hafidz Sulaiman sebagai pendiri Pondok Pesantren Selaparang Kediri. Bahkan, nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama jalan di lingkungan pesantren.
TGH. Abdul Hafidz Sulaiman dikenal sebagai sosok ulama yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama dan pembentukan akhlak. Bagi beliau, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dapat dipelajari, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut melahirkan pribadi yang beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Pondok Pesantren Selaparang kemudian menjadi salah satu bentuk nyata dari pengabdian beliau. Lembaga tersebut berkembang sebagai tempat pendidikan yang memadukan pembelajaran keagamaan dengan pendidikan formal. Dalam profil Pondok Pesantren Selaparang, tujuan pendidikan yang diwariskan pendirinya antara lain membentuk generasi yang berilmu dan berakhlakul karimah dengan landasan iman dan Islam.
Mendirikan sebuah pesantren bukanlah sekadar membangun gedung atau menyediakan tempat belajar. Pesantren adalah tempat membentuk manusia. Karena itu, perjuangan TGH. Abdul Hafidz Sulaiman dapat dipandang sebagai perjuangan jangka panjang yang hasilnya terus dirasakan oleh generasi setelah beliau.
Dari lingkungan Pondok Pesantren Selaparang, lahir para santri dan alumni yang kemudian menyebarkan ilmu serta melanjutkan pengabdian di berbagai daerah. Tradisi keilmuan dan hubungan antara guru, santri, serta alumni juga terus dipelihara melalui berbagai kegiatan pesantren dan organisasi alumni.
Jejak pemikiran dan pendidikan beliau juga masih terlihat dalam berbagai kebiasaan yang berkembang di lingkungan pesantren. Sebuah penelitian mengenai pendidikan karakter di Pondok Pesantren Selaparang mencatat bahwa nilai kepedulian terhadap lingkungan telah diajarkan sejak dahulu dan oleh pihak pesantren dikaitkan dengan ajaran yang diwariskan oleh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman.
Warisan seorang ulama tidak selalu berbentuk tulisan atau bangunan. Sering kali warisan terbesar seorang guru justru berupa akhlak dan keteladanan yang hidup dalam diri para muridnya.
Dalam tulisan yang diterbitkan oleh Yayasan Islam Selaparang, TGH. Abdul Warits Jurang Jaler mengenang gurunya, TGH. Abdul Hafidz Sulaiman, sebagai sosok yang gemar berkata baik, memberikan makanan, berpuasa, dan menjaga ibadah, termasuk shalat malam. Kenangan tersebut menunjukkan bagaimana seorang guru dikenang bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena perilaku dan pengabdiannya.
Keteladanan semacam inilah yang membuat hubungan seorang guru dengan muridnya tidak berhenti ketika proses belajar selesai. Ilmu yang diberikan terus hidup dalam perilaku, pengabdian, dan perjuangan para murid.
Salah satu aspek yang menarik dari sosok TGH. Abdul Hafidz Sulaiman adalah perhatian terhadap tradisi keilmuan Islam. Sebuah tulisan khusus mengenai zikir yang beliau amalkan setelah shalat, misalnya, membahas praktik tersebut dengan merujuk kepada kitab-kitab turats dan hadis. Tulisan itu menggambarkan beliau sebagai ulama yang memiliki perhatian terhadap praktik keagamaan sekaligus tradisi keilmuan Islam.
Dengan demikian, warisan beliau tidak hanya berupa lembaga pendidikan, tetapi juga tradisi mengaji, beribadah, menghormati guru, menjaga silaturahmi, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan haul TGH. Abdul Hafidz Sulaiman menjadi salah satu sarana bagi keluarga besar Pondok Pesantren Selaparang, alumni, santri, dan masyarakat untuk kembali mengenang perjuangan beliau.
Pada Haul ke-40 yang diselenggarakan pada Desember 2023, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang seorang ulama yang telah wafat, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi para alumni dan warga yang memiliki hubungan dengan Pondok Pesantren Selaparang.
Makna terpenting dari sebuah haul bukan sekadar mengingat nama seseorang, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai kebaikan yang pernah diajarkan. Semangat menuntut ilmu, menghormati guru, menjaga ibadah, memperkuat silaturahmi, dan mengabdi kepada masyarakat merupakan nilai-nilai yang relevan untuk terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pondok Pesantren Selaparang hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang dirintis oleh TGH. Abdul Hafidz Sulaiman. Apa yang dahulu dimulai sebagai perjuangan pendidikan dan dakwah kemudian berkembang menjadi lembaga yang menaungi berbagai aktivitas pendidikan dan pembinaan generasi.
Oleh karena itu, ketika nama TGH. Abdul Hafidz Sulaiman disebut, yang dikenang bukan hanya seorang tokoh masa lalu, tetapi juga sebuah cita-cita besar tentang pendidikan Islam: melahirkan manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Warisan tersebut menjadi amanah bagi generasi penerus. Santri, alumni, guru, pengurus, dan seluruh keluarga besar Selaparang memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh sang pendiri.
TGH. Abdul Hafidz Sulaiman telah berpulang, tetapi ilmu, pesantren, murid, dan nilai-nilai perjuangannya terus hidup.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafan beliau, menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya, dan menjadikan Pondok Pesantren Selaparang sebagai amal jariyah yang terus mengalir bagi beliau.
Al-Fatihah.
“Guru boleh telah tiada, tetapi ilmu yang diwariskan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam hati para murid, tumbuh dalam pesantren, dan diteruskan dari generasi ke generasi.”
Data faktual utama dalam artikel ini saya sesuaikan dengan sumber Yayasan Islam Selaparang, pemberitaan Haul ke-40, serta tulisan akademik mengenai Pondok Pesantren Selaparang. Sumber yang saya temukan juga mencantumkan sebuah buku biografi berjudul “TGH. Abdul Hafidz Sulaiman: Ilmu Bening Sebening Hati Sang Guru 1898–1983” karya H. Patompo Adnan.