Persahabatan Dua Ulama: TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan TGH. Abdul Hafidz Sulaiman
2026-09-26 03:01:00
Persahabatan antara TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Pancor, Lombok Timur, dan TGH. Abdul Hafidz Sulaiman dari Kediri, Lombok Barat, merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan pendidikan dan dakwah Islam di Lombok.
Keduanya bukan hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga pernah bersama-sama menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan kebangsaan. Pada Pemilu 1955, keduanya terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante, mewakili Partai Masyumi dari Provinsi Sunda Kecil.
Hubungan keduanya tercatat sebagai hubungan persahabatan sekaligus perjuangan. Dalam menjalankan tugas di Konstituante, mereka berada dalam lingkungan perjuangan yang sama dan terlibat dalam berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat dan kehidupan keislaman.
Salah satu catatan penting adalah ketika TGH. Abdul Hafidz Sulaiman bersama TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyampaikan kritik terhadap persoalan internal Masyumi yang mereka pandang tidak sesuai dengan prinsip yang mereka perjuangkan. Kritik tersebut kemudian dikenal dalam sumber-sumber biografis sebagai Risalah Bandung.
Kebersamaan mereka juga tampak dalam perjuangan menyuarakan kepentingan daerah. Sumber biografi TGH. Abdul Hafidz mencatat bahwa keduanya turut menyampaikan argumentasi dalam proses yang berkaitan dengan pembentukan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 1958.
Yang menarik dari hubungan kedua tokoh ini adalah bahwa persahabatan mereka tidak berhenti pada hubungan pribadi. Keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap pendidikan Islam, dakwah, kemasyarakatan, dan pembinaan generasi.
TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kemudian dikenal sebagai pendiri dan tokoh utama Nahdlatul Wathan, sementara TGH. Abdul Hafidz Sulaiman melanjutkan perjuangannya melalui pendidikan dan pengembangan Pondok Pesantren Selaparang di Kediri.
Karena itu, hubungan kedua ulama tersebut dapat dikenang sebagai persahabatan dua tokoh yang saling berjalan dalam satu semangat: mengabdikan ilmu untuk agama, masyarakat, dan bangsa.
Foto-foto lama yang memperlihatkan kebersamaan para tuan guru menjadi pengingat bahwa sejarah Lombok dibangun melalui hubungan antartokoh yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan umat.
Persahabatan Maulanasyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan TGH. Abdul Hafidz Sulaiman menjadi salah satu warisan sejarah yang patut dikenang oleh generasi penerus, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Selaparang Kediri dan Nahdlatul Wathan.
Dua ulama, dua pusat perjuangan, tetapi satu cita-cita: menjadikan ilmu, iman, dan pengabdian sebagai jalan untuk membangun umat.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat kepada kedua ulama tersebut dan menjadikan seluruh perjuangan serta ilmu yang mereka wariskan sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Al-Fatihah.