PENGAJIAN BULANAN PONPES SELAPARANG OLEH: UST. MUHAMMAD DARWAN

Muqaddimah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah SWT.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah akal dan ilmu pengetahuan.

Dengan ilmu, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan yang haram, serta antara jalan yang membawa kebaikan dan jalan yang membawa keburukan.

Ada sebuah ungkapan yang sangat masyhur di kalangan para ulama:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Ungkapan ini mengajarkan kepada kita bahwa ilmu merupakan jalan penting untuk meraih keberhasilan, baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.


1. Ilmu adalah Jalan Menuju Kehidupan Dunia yang Baik

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Kalimat pertama berbunyi:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Barang siapa menginginkan dunia, maka hendaklah ia memiliki ilmu."

Apa maksudnya?

Kehidupan dunia membutuhkan ilmu. Seseorang yang ingin menjadi guru harus memiliki ilmu. Yang ingin menjadi dokter harus belajar ilmu kedokteran. Yang ingin menjadi pengusaha harus mempelajari ilmu perdagangan. Yang ingin menjadi petani juga membutuhkan ilmu tentang pertanian.

Artinya, keberhasilan tidak cukup hanya dengan keinginan. Keinginan harus disertai dengan ilmu, usaha, dan kesungguhan.

Seorang santri yang ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat tidak cukup hanya mengatakan, "Saya ingin menjadi orang sukses."

Ia harus bertanya:

Ilmu apa yang harus saya pelajari?

Kemudian ia belajar, membaca, bertanya kepada guru, mengulang pelajaran, dan mengamalkan ilmu tersebut.

Karena itu, jangan pernah malu menjadi orang yang sedang belajar.

Lebih baik hari ini kita mengakui bahwa kita belum tahu, kemudian belajar, daripada merasa sudah tahu tetapi ternyata salah.


2. Ilmu adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Akhirat

Kemudian kalimat kedua:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia memiliki ilmu."

Hadirin rahimakumullah.

Untuk beribadah kepada Allah pun kita membutuhkan ilmu.

Kita ingin salat dengan benar, maka kita harus belajar tentang salat.

Kita ingin berpuasa dengan benar, maka kita harus belajar tentang puasa.

Kita ingin mencari rezeki yang halal, maka kita harus mengetahui mana yang halal dan mana yang haram.

Kita ingin mendidik anak dengan baik, maka kita harus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik.

Jadi, ibadah tidak boleh hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi harus berdasarkan ilmu.

Seseorang mungkin rajin beribadah, tetapi apabila tidak memiliki ilmu, ia bisa saja melakukan sesuatu yang menurutnya benar, padahal tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Karena itu, menuntut ilmu agama merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.


3. Dunia dan Akhirat Sama-Sama Membutuhkan Ilmu

Selanjutnya:

وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Dan barang siapa menginginkan keduanya, maka hendaklah ia memiliki ilmu."

Inilah yang sangat penting untuk kita renungkan.

Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia dan hanya memikirkan akhirat. Islam juga tidak mengajarkan kita untuk mengejar dunia sampai melupakan akhirat.

Kita diperintahkan untuk mencari keseimbangan.

Kita boleh bekerja, berdagang, menjadi pegawai, menjadi guru, menjadi petani, menjadi pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.

Tetapi semua itu harus dilakukan dengan ilmu dan tetap berada dalam jalan yang diridai Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."

(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan seimbang.


4. Ilmu Tanpa Amal Tidak Akan Memberikan Manfaat yang Sempurna

Jamaah yang dirahmati Allah.

Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:

Ilmu harus diamalkan.

Jangan sampai kita banyak mengetahui ilmu, tetapi sedikit mengamalkannya.

Kita mengetahui bahwa berkata jujur itu wajib, tetapi masih sering berbohong.

Kita mengetahui bahwa menjaga lisan itu penting, tetapi masih suka membicarakan keburukan orang lain.

Kita mengetahui bahwa salat itu wajib, tetapi masih meninggalkannya.

Kita mengetahui bahwa bersedekah itu mulia, tetapi hati kita masih berat untuk berbagi.

Maka ilmu yang baik adalah ilmu yang membawa perubahan dalam kehidupan.

Semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin baik akhlaknya, semakin rendah hati, semakin takut kepada Allah, dan semakin banyak manfaatnya bagi orang lain.


5. Jangan Berhenti Menuntut Ilmu

Hadirin yang berbahagia.

Menuntut ilmu bukan hanya kewajiban anak-anak atau para santri.

Orang tua juga harus terus belajar.

Guru harus terus belajar.

Pemimpin harus terus belajar.

Ulama juga terus belajar.

Bahkan selama kita masih hidup, kita tidak boleh merasa sudah cukup dengan ilmu yang kita miliki.

Semakin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin kita menyadari bahwa pengetahuan kita masih sangat terbatas.

Karena itu, mari kita biasakan:

Belajar setiap hari.

Walaupun hanya membaca beberapa halaman kitab.

Walaupun hanya mendengarkan satu nasihat guru.

Walaupun hanya memahami satu ayat Al-Qur'an.

Walaupun hanya mempelajari satu hadis.

Sedikit tetapi istiqamah jauh lebih baik daripada banyak tetapi hanya sesekali.


6. Ilmu Harus Melahirkan Akhlak

Hadirin rahimakumullah.

Tujuan pendidikan bukan hanya supaya seseorang menjadi pintar.

Yang lebih penting adalah agar ilmu tersebut melahirkan akhlak yang mulia.

Orang yang berilmu tetapi sombong, ilmunya belum memberikan pengaruh yang baik pada dirinya.

Orang yang berilmu tetapi suka merendahkan orang lain, berarti ia belum memahami hakikat ilmu.

Orang yang benar-benar memahami ilmu akan semakin tawaduk.

Ia menghormati guru.

Ia menyayangi orang tua.

Ia menghormati orang yang lebih tua.

Ia menyayangi yang lebih muda.

Ia menjaga lisannya.

Ia amanah.

Ia jujur.

Ia senang membantu orang lain.

Inilah salah satu tanda ilmu yang bermanfaat.


7. Nasihat untuk Para Santri dan Generasi Muda

Bagi para santri dan anak-anak muda, jangan sia-siakan masa belajar.

Masa muda adalah masa yang sangat berharga.

Gunakan waktu untuk belajar.

Kurangi hal-hal yang tidak bermanfaat.

Hormati guru.

Hormati orang tua.

Rajin membaca.

Rajin mengaji.

Rajin berdiskusi dengan orang yang berilmu.

Jangan malu bertanya.

Jangan malu mengulang pelajaran.

Dan yang paling penting, jangan cepat merasa pintar.

Karena orang yang benar-benar berilmu biasanya semakin rendah hati.

Ingatlah bahwa suatu saat nanti masyarakat membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga berilmu, beriman, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat.


Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi cahaya dalam kehidupan kita, menjadi jalan untuk memperbaiki diri, menjadi bekal untuk beribadah kepada Allah SWT, dan menjadi sebab kita memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

.

Gambar terkait